Sebagian
orang pasti tidak asing lagi dengan Manajemen Operasional. Fisher College of Business-The
Ohio State University mendefinisikan manajemen operasional sebagai suatu
pengaturan dan pengendalian secara sistematis dari serangkaian proses yang
mentransformasikan input menjadi output (barang/jasa). Sasarannya sebenarnya sederhana
saja yaitu memenuhi kepuasan pelanggan (customer satisfaction). Namun pada prakteknya ternyata
proses yang harus dilalui untuk mencapai sasaran ini sangatlah kompleks. Dalam
proses transformasi menghasilkan barang/jasa yang dimaksud ada banyak aspek,
tanggung jawab, fokus, analisis, pengukuran dan pengambilan keputusan
operasional yang harus dipertimbangkan dan dikerjakan sedemikian rupa sehingga
sangat menguras energi, biaya, waktu dan pikiran. Ini membuat setiap organisasi
modern memberikan porsi yang sangat besar pada pengelolaan manajemen
operasional. Sekolah-sekolah bisnis terkemuka pun sekarang sudah mulai membuat
program dengan gelar berkonsentrasi pada operation management.
Pentingnya
manajemen operasional meningkat sangat dramatis beberapa tahun terakhir ini.
Hal ini ditandai dengan makin ketatnya kompetisi antar perusahaan, penetrasi
pasar sudah mulai meng-global, teknologi maju tak terbendung lagi, dan yang
terpenting: para pelanggan/konsumen makin cerdas, kritis dan makin melek
kualitas. Lazimnya manajemen operasional memainkan peranan besar pada industri
manufaktur, namun jaman sekarang ini ternyata juga signifikan pada kelompok
usaha trading & jasa, tidak saja buat swasta namun juga sektor publik,
tanpa memandang apakah bermotif profit maupun non-profit.
Pengelolaan
manajemen operasional umumnya berada pada divisi operasi, quality/business
process atau pada bagian yang sejenis (namanya tidak persis sama di
setiap jenis organisasi). Namun yang jelas secara kategorial, kita bisa membagi
dua peranan work-process
yang memegang kunci berhasilnya pengelolaan manajemen operasional. Pertama
kategori operational
process dan kedua administrative process. Di dalam kategori operational
process biasanya terdapat kegiatan merancang, memproduksi dan
menyerahkan barang/jasa untuk pelanggan. Dari sisi fungsi operasional,
kegiatan-kegiatan ini biasa disebut product development, manufaktur dan logistik &
distribusi. Sementara itu dalam kategori administrative process umumnya meliputi kegiatan yang
tidak memproduksi output namun tetap diperlukan untuk berjalannya proses
operasional. Secara fungsional kegiatan dalam kategori administrative
process lazim disebut strategic planning, budgeting, dan pengukuran kinerja.
Dari
sisi pengelolanya, umumnya jabatan person-in-charge yang memegang peranan biasa disebut
sebagai operation
manager, quality manager, business process manager atau supply chain
manager (bisa berbeda-beda di tiap organisasi). Tugas utama mereka
adalah memonitor setiap tahapan yang dilalui oleh suatu proses dalam rangka
penyediaan barang/jasa. Lebih rinci lagi bisa dikatakan mereka adalah pihak
berkompeten yang menentukan input (peralatan, tenaga kerja, bahan baku, energi,
informasi, cara & teknik) untuk ditransformasi menjadi output
(barang/jasa) untuk memenuhi permintaan pasar. Dengan demikian peranan mereka
sangat signifikan dalam tiap organisasi.
Signifikansi
peranan mereka tertuang dalam tanggung jawab penting yang mereka pikul dan
biasanya meliputi aspek human resource management, asset management dan cost
management. Aspek human resource management menekankan pada koordinasi dan
integrasi sumber daya manusia (baik itu fungsi langsung maupun penunjang).
Aspek asset
management memperhatikan dengan cermat pemanfaatan maksimal dari
gedung, fasilitas, peralatan dan persediaan bahan baku. Sementara itu aspek cost
management meliputi pengendalian biaya mulai dari pengadaan input,
proses transformasi, sampai kepada penyerahan output kepada
pelanggan. Secara garis besar fokus dari pengelolaan manajemen operasional
menekankan pada manajemen kualitas, perencanaan kapasitas, manajemen input
(sumber daya) dan proses pengadaan dan penjadwalan.
Sekarang
mari kita lihat model transformasi dalam manajemen operasional. Secara
sederhana kita dapat melihat input masuk ke dalam proses transformasi untuk
menghasilkan output
dan yang turut memegang peran penting dalam lingkungan seperti supplier
(penyedia input)
dan pelanggan (penerima output). Juga ada garis yang ditarik dari output
menuju input
yang menggambarkan suatu umpan balik untuk mengakomodasi persoalan kualitas,
performa dan biaya.
Setelah melakukan analisis output, kita bisa melakukan pengukuran apakah misi dari manajemen operasional sudah dapat dikatakan berhasil atau tidak. Umumnya organisasi bermotif profit mengukurnya dengan tingkat profit yang dihasilkan, growth yang terjadi, dan tingkat daya saingnya dalam pasar. Sementara itu organisasi non-profit biasanya mengukur prestasinya dari value for money atau dengan kata lain melihat sudut pandang luasan efektifitas yang tercipta dari implementasi program-program dengan dana yang disalurkan.
Di tengah-tengah berjalannya proses di atas, kita akan menemui banyak keputusan-keputusan operasional yang harus diambil. Pengambilan keputusan-keputusan ini bisa dicerna dari dua esensi yaitu pertama berdasarkan jenisnya dan kapan akan dilakukan. Berdasarkan jenisnya, pengambilan keputusan akan banyak ditemui dalam pengadaan sumber daya (bahan baku dan manusia), kualitas & kuantitas barang/jasa, dan dalam proses menghasilkan barang dan jasa. Sementara dari sisi kapan akan dilakukan, pengambilan keputusan sangat krusial pada saat perancangan sistem, pengelolaan sistem dan perbaikan sistem.





